Selasa, 10 Juli 2012

RESENSI BUKU NONFIKSI

PRAGMATIK : Teori dan Analisis




Judul                 : Pragmatik : Teori dan Analisis
Penulis              : Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum.
Pengantar        : Prof. Dr. I. Dewa Putu Wijaya, S.U.,M.,A.
Penerbit           : Yuma Pustaka
Tahun Terbit   : Cetakan Pertama,Juli 2010
Tebal               : 145 halaman
Harga              : Rp 50.000,-

 
Buku nonfiksi berjudul Pragmatik : Teori dan Analisis ini ditulis oleh Dr. Muhammad Rohmadi,M.Hum. , seorang magister humaniora dan Doktor bidang linguistik/Pragmatik. Pria yang aktif sebagai pembicara dalam seminar workshop dan lokakarya baik nasional maupun internasional ini lahir di Sragen pada tanggal 13 Oktober 1976. Buku Pragmatik : Teori dan Analisis ini bukan satu-satunya hasil karya penulis, akan tetapi ada beberapa buku lain tentang seluk beluk bahasa yang diterbitkan oloh Yuma Pustaka.
Secara global, buku ini mengulas tentang teori-teori pragmatik yang berkaitan dengn maksud-maksud tuturan pemakai bahasa yang tersirat dibalik tuturannya. Baik tuturan yang terikat konteks maupun tanpa konteks. Pragmatik adalah salah satu cabang ilmu bahasa yang masih tergolong baru dilihat dari perkembangannya . Perkembangan pragmatik ini disebabkan semakin tingginya tingkat kesadaran para ahli bahasa terhadap pemahaman pragmatik yaitu bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi.
Maka dari itu dalam buku ini penulis mencoba menelaah teori-teori pragmatik, wacana-wacana pragmatik, peristiwa tutur, tindak tutur, sentence and utterance, interpretasi pragmatik dan analisis pragmatik dalam wacana lisan dan tulis. Sehingga nantinya diharapkan dapat menambah wawasan pembaca dan pemerhati bahasa dalam melakukan analisis data-data pragmatik.
Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secra eksternal, yaitu bagaimana satuan kebahasaan digunakan dalam komunikasi. Jadi makana yang dikaji pragmatik adalah makna yang terikat konteks. Pragmatik dapat dimanfaatkan oleh setiap penutur untuk memahami maksud lawan tuturnya. Penutur dan lawan tutur dapat memanfaatkan pengalaman bersama (background knowledge) untuk memudahkan pengertian bersama atau memudahkan kesepahaman. Dalam berkomunikasi anatara penutur dan lawan tutur tdak akan lepas dengan sebuah wacana. Wacana merupakan satuan tertinggi dan terbesar dalam hierarki gramatikal. Dalam memahami wacana bahasa sebagai alat komunikasi perlu dipertimbangkan dua hal yaitu prinsip dalam wacana pragmatik dan kaidah dalam tata bahasa.
Lalu, dalam menyampaikan maksud dengan beraneka ragam tuturan harus senantiasa mempertimbangkan sejumlah aspek dalam studi pragmatik yaitu penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan tutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Dalam setiap komunikasi pun terjadi lah peristiwa tutur. Terjadinya peristiwa tutur dalam setiap komunikasi selalu diikuti oleh berbagai unsur yang tidak terlepas dari konteksnya serta tidak akan lepas dengan adanya tindak tutur. Tindak tutur merupakan gejala sosial dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu.
Analisis mengenai fenomena-fenomena pragmatik dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, dalam buku ini penulis memberikan sebuah gambaran yaitu menganalisis fenomena-fenomena pragmatik melalui surat kabar yaitu Solopos. Dalam surat kabar tersebut terdapat sebuah Rubrik yaitu Rubrik "Wong Solo Ngudarasa" Solopos (RWSNS). RWSNS ini adalah satu kolom yang terdapat pada surat kabar dalam solopos sebagai wahana penyampaian tanggapan tentang berbagai permasalahan yang sedang aktual di kota Solo. Dalam hal ini penulis menggunakan sarana kebahasaan untuk berkomunikasi dengan pembaca yaitu menggunakan sarana bahasa tulis karena komunikasi penulis dengan pembaca adalah komunikasi tertulis (tidak bersemuka) yang menggunakan media surat kabar.
Ditinjau dari segi bahasa, buku ini mudah dipahami, dimengerti, dan cukup bermanfaat bagi para pembaca termasuk mahasiswa, dosen, peminat, dan pemerhati linguistik khususnya pragmatik dalam melakukan analisis data-data pragmatik.
Kelebihan lain yaitu cover dengan warna cerah dan cukup menarik hari para pembaca juga kualitas kertas yang digunakan bagus. Isi buku juga dilengkapi dengan berbagai sumber buku bacaan lain dari beberapa ahli-ahli bahasa sehingga memudahkan pembaca memahami maksud penulis serta pembaca untuk mendapatkan pengetahuan lebih karena dilengkapi pendapat dari ahli-ahli lain yang sekiranya mendukung materi tersebut.
Kekurangan dari buku ini yaitu untuk cover karena sudah dibuat dengan warna cerah hendaknya juga dilengkapi dengan sedikit gambar- gambar ilustrasi ataupun yang lainnya sehingga tidak terkesan hambar.
Secara keseluruhan buku ini layak dibaca dan bisa dijadikan salah satu referensi sebelum menganalisis adanya fenomea-fenomena pragmatik dan lain sebagainy. Bahasanya mudah dipahami sehingga dapat dimengerti oleh pembaca dan pemerhati bahasa.


Kamis, 07 Juni 2012

Hasil Reproduksi Penelitian

Membaca Komphrehensif
 Oleh: 
Umamah Khoirunnisaa' A 310110161  



1. TEKS ASLI PENELITIAN



TUTURAN PENGEKSPRESI PRINSIP KESOPANAN
DALAM BAHASA JAWA

Drs. Wiwin Erni Siti Nurlina, Peneliti pada Balai Pustaka Yogjakarta
Jurnal Widyaparwa, Vol. 32, No. 1, Juni 2004: 89-106

Abstract
An oral utterance always involves speaker, receiver, and speaking material. Utterances are built into a discourse. The discussion of the discourse using pragmatic approach has various aspects. This paper discusses Javanese language discourse dealing with context . The relationship between the discourse and its context can be divided into several aspect, like the relationship between discourse and speaker, discourse with content of utterance, discourse with speaking material, discourse and receiver. The relationship between discourse and the speaker are dealing with the principle of discourse productivity, one of them is politeness principle. The main problem in this review is the implementation of politeness principle in Javanese language utterances.

Keyword : Discourse Analysis, pragmatic, utterance context, politeness principle.




Hasil Reproduksi Penelitian Ilmiah


TUTURAN PENGEKSPRESI PRINSIP KESOPANAN
DALAM BAHASA JAWA

Drs. Wiwin Erni Siti Nurlina, Peneliti pada Balai Pustaka Yogjakarta
Jurnal Widyaparwa, Vol. 32, No. 1, Juni 2004: 89-106

Abstract


Sebuah ucapan lisan selalu melibatkan pembicara, penerima, dan bahan berbahasa. Ucapan-ucapan dibangun menjadi wacana. Pembahasan wacana tersebut menggunakan pendekatan pragmatis yang memiliki berbagai aspek. Tujuan kajian penerapan prinsip kesopanan dalam tuturan Bahasa Jawa ini yaitu dengan adanya gejala kebahasaan dalam Bahasa Jawa yang beraneka ragam wujudnya, kajian ini diperlukan untuk digunakan sebagai salah satu cara memahami fungsi bahasa sebagai bagian yang tidak dapat terpisahkan dari budaya masyarakat pemilikinya khususnya dalam setiap kesopanan.
Metode yang digunakan dalam kajian itu yaitu dengan menggunakan prinsip kesopanan yang dipatuhi dalam peristiwa tutur. Ada enam maksim prinsip kesopanan yang dapat diekspresikan oleh beberapa bentuk ujaran. Bentuk-bentuk ujaran pengekspresi maksim-maksim dalam prinsip kesopanan yaitu ujaran impositif, ujaran komisif , ekspertif, dan ujaran asertif.
Hasil dari kajian ini dapat dirumuskan bahwa dalam ujaran itu tidak lepas dengan adanya konteks yang ada dan ujaran-ujaran tersebut dibentuk menjadi sebuah wacana. Diantara wacana dan konteksnya dapat dibagi menjadi beberapa aspek, seperti hubungan antara wacana dan speaker, wacana dengan isi ucapan, wacana dengan berbicara bahan, wacana dan penerima. hubungan antara wacana dan pembicara berurusan dengan prinsip produktivitas wacana, salah satunya adalah prinsip kesopanan. Masalah utama dalam kajian ini adalah penerapan prinsip kesopanan dalam tuturan bahasa Jawa.


2. TEKS ASLI PENELITIAN



LATAR BELAKANG PENUTUR SEBAGAI FAKTOR PENENTU BENTUK WACANA DIREKTIF DALAM BAHASA JAWA 
Widada, Peneliti pada Balai Pustaka Yogjakarta
Jurnal Widyaparwa, Makalah ini telah disajikan dalam Diskusi Kebahasaan dan Kesastraan di Balai Pustaka Yogyakarta, tanggal 22 September 1999



Abstrak


Masyarakat Jawa termasuk masyarakat yang mengutamakan perasaan dalam berkomunikasi. Segala tutur kata (berbahasa) dan tingkah lakunya selalu diusahakan jangan sampai menyinggung perasaan orang lain. Semuanya itu dilakukan dalam rangka memelihara suatu pernyataan sosial yang harmonis dan jauh dari konflik. Kerangka berpikir semacam itu diterapkan dalam menyatakan wacana direktif yang berisi agar orang lain mau melakukan sesuatu tindakan seperti yang dikehendaki penutur. Wujud wacana direktif dalam bahasa Jawa yang berupa wacana perintah, larangan, permintaan, bujukan, dan tantangan itu banyak ditentukan oleh faktor latar belakang peserta tutur, seperti watak, usia, emosi, status sosial, kemampuan berbahasa, dan aspirasi.




HASIL REPRODUKSI PENELITIAN



LATAR BELAKANG PENUTUR SEBAGAI FAKTOR PENENTU BENTUK WACANA DIREKTIF DALAM BAHASA JAWA 
Widada, Peneliti pada Balai Pustaka Yogjakarta
Jurnal Widyaparwa, Makalah ini telah disajikan dalam Diskusi Kebahasaan dan Kesastraan di Balai Pustaka Yogyakarta, tanggal 22 September 1999


Abstrak


Masyarakat pada umumnya termasuk golongan masyarakat yang mengutamakan rasa, perasaan, dalam berkomunikasi. Demikian pula dalam bertindak tanduk dan bertingkah laku lainnya selalu dipikirkan terlebih dahulu apakah tutur kata dan tingkah lakunya tersebut menyingging perasaan orang lain atau tidak. Tujuan dari semua itu dillakukan bertujuan untuk memelihara pernyataan sosial yang harmonis dengan memperkecil adanya konflik sosial dan pribadi secara terbuka dalam bentuk apapun serta agar tercapainya keseimbangan yang harmonis dalam berkomunikasi.
Keharmonisan dalam berkomunikasi itu memang sangat diutamakan dalam berkomunikasi karena hal itu akan menentukan tujuan atau harapan nyang diperoleh dari komunikasi tersebut. Lalu metode yang digunakan dalam komunikasi tersebut berupa komunikasi direktif. Bentuk komunikasi direktif atau wacana direktif ini merupakan sebuah tuturan atau ujaran yang berisi agar orang lain mau melakukan tindakan yang sesuai dengan yang dikehendaki penutur. Agar komunikasinya berhasil maka penutur harus menggunakan bentuk-bentuk komunikasi atau wacana sebagai sarana komunikasi yang memenuhi persyaratan tertentu seperti unsur komponen tutur diantaranya mitra bicara, topik pembicaraan, suasana, tempat, dan siapa penuturnya.
    Hasil penelitian yang dapat dirumuskan yaitu bahwa wacana direktif dalam bahasa Jawa itu ditentukan oleh latar belakang kehidupan si peserta tutur. Adapun latar belakang peserta tutur itu meliputi diantaranya yaitu watak, warna emosi, aspirasi, kemapuan berbahasa, dan usia peserta tutur selain itu juga terdapat unsur komponen tutur.




Minggu, 11 Maret 2012

Perkembangan peserta Dididk

Nama : Umamah Khoirunnisaa’
Nim : A 310110161
Kelas : 2C

Dari Buku : Perkembangan Peserta Didik
Pengarang ; Saring Marsudi,dkk
Penerbit ; BP-FKIP UMS
Ringkasan :
Peserta didik adalah individu yang sedang berkembang baik jasmani maupun rohani. Anak sebagai individu yang lemah sangat membutuhkan pertolongan dalam mengembangkan segala potensi dan bakat yang ada dalam dirinya. Bagaimana memahami kemampuan anak dan mengetahui bagaimana berhubungan dengan anak.
Islam menjelaskan bahwa manusia (peserta didik) adalah makhluk Allah swt sesuai firman-Nya dalam Al-Qur’an surat At-Tin : 4
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Manusia dibekali potensi berupa fitrah kecenderungan jahat dan kecenderungan baik sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Asy-Syams : 8 (“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”)
Agar dapat menjalankan fungsinya selain dibekali dengan kodrat tersebut juga dibekali akal, pikiran, nafsu. Dalam banyak ayat peserta didik berpotensi untuk diperlakukan sebagai subjek didik yang harus dididik, hal tersebut dijelaskan dalam surat Al-Anbiya’ : 12-17 dan juga surat Al-A’raf : 179.
Dalam pembelajaran, peserta didik dapat dipandang sebagai objek didik, subjek didik, dan sebagai subjek dan objek didik sekaligus. Sebagai objek didik, ialah sebagai wadah yang harus diisi dengan pengetahuan, dan ketrampilan. Peserta didik diperlakukan pasif, ia harus menereima semua yang diberikan guru. sebagai subjek yang memiliki potensi tersendiri, ia aktif mengembangkan potensinya, ia merespon, bertanya dan menanggapi keterangan guru pada saat berlangsungnya pembelajaran. Guru berfungsi sebagai fasilitator, menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga peserta didik terjadi proses belajar.
Opini :
Sebagai calon pendidik nantinya, mahasiswa tidak hanya menyampaikan dan mengajarkan ilmu saja, akan tetapi juga mendidik anak didiknya untuk menjadi lebih baik. Pendidikan bukanlah untuk mengubah anak-anak, atau menghibur mereka dengan pelajaran yang menyenangkan. Juga bukan untuk menciptakan teknisi-teknisi yang ahli di bidangnya.
Pendidikan adalah untuk menantang siswa agar selalu berpikir kritis dan ingin tahu. Pendidikan adalah juga untuk membuka wawasan, menumbuhkan rasa cinta belajar, serta mengajar untuk berpikir dengan benar, sebisa mungkin.

Mendidik anak-anak bukan berarti mengajarkan kepada mereka sekumpulan ilmu pengetahuan semata. Lebih penting lagi, mendidik berarti mengajarkan kepada anak-anak sejak usia dini, kemampuan untuk siap dan mampu menghadapi tantangan dunia masa depan yang akan menjadi ajang hidup mereka nantinya..Dan ini berarti menanamkan keingintahuan dan rasa cinta belajar seumur hidup, kreativitas, keberanian mengemukakan pendapat dan berekspresi, serta penghargaan akan segala bentuk perbedaan (antarmanusia).

Jumat, 02 Maret 2012

fonetik

.........................................

Fonetik adalah bidang linguistic yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.
Menurut proses terjadinya bunyi bahasa, fonetik dibedakan menjadi 3 jenis yaitu :
1. Fonetik Artikulatoris atau organis
Yaitu mempelajari mekanisme alat-alat bicara yang ada dalam tubuh manusia.
2. Fonetik Akustis
Yaitu mempelajari bunyi bahasa dari segi bunyi sebagai gejala fisis.
3. Fonetik Auditoris
Yaitu mempelajari mekanisme telinga menerima bunyi sebagai getaran udara.

Dalam fonetik ini akan membahas dan mengkaji tentang :
a. Alat-alat ucap
b. Klasifikasi bunyi
c. Unsur Suprasegmental

Untuk lebih jelasnya lagi, maka dibawah ini akan diuraikan tentang kajian dalam fonetik.
I. ALAT UCAP ATAU BICARA
a. Paru-paru (lungs)
b. Batang tenggorokan (trache)
c. Pangkal tenggorokan (larync)
d. Pita-pita suara (vocal cords)
e. Krikoid (cricoid)
f. Tiroid (thyroid) atau lekum
g. Aritenoid (arythenoids)
h. Dinding rongga kerongkongan (wall of pharynx)
i. Epiglotis (Epiglotiss)
j. Akar lidah (root of the tongue)
k. Punggung lidah, lidah belakang, pangkal lidah (hump, back of tongue, dorsum)
l. Tengah lidah (middle of the tongue, medium)
m. Daun lidah (glade of tongue, lamina)
n. Ujung lidah (tip of the tongue, apex)
o. Anak tekak (uvula)
p. Langit-langit lunak (soft palate, velum)
q. Langit-langit keras (hard palate, palatum)
r. Gusi dalam, gusi belakang, ceruk gigi, lengkung kaki gigi (alveola, alveolu
s. Gisi atas (upper teeth, denta)
t. Gigi bawah (lower teeth, denta)
u. Bibir atas (upper lip, labia)
v. Bibir bawah (lower lip, labia)
w. Mulut (mouth)
x. Rongga mulut (oral cavity, mouth cavity)
y. Rongga hidung (nose cavity, nasal cavity) (Marsono, 1986: 6-7).

II. KLASIFIKASI BUNYI
Secara garis besar klasifikasi bunyi dibedakan menjadi dua yaitu bunyi vokal dan bunyi konsonan. Bunyi vokal ini dalam pengucapannya tidak ada hambatan, sedangkan bunyi konsonan itu ada hambatan.
Sebelum membahas lebih lanjut tentang bunyi vokal dan konsonan. Berikut ini adalah uraian tentang klasifikasi bunyi bahasa yaitu :
1) Vokal, konsonan, dan semi vokal
Konsonan : menghambat arus bicara pada sebagian alat bicara.
Vokal : tidak ada hambatan pada alat bicara
Semi vocal : secara praktis termasuk konsonan tapi karena pada waktu diartikulasikan belum membentuk konsonan murni.
2) Nasal dan oral
Oral : udara keluar lewat rongga hidung kemudian menurunkan langit-langit beserta ujung anak tekak. Naik menutup rongga hidung sehingga udara hanya lewat rongga mulut saja.
Nasal : disebut juga bunyi sengau jika udara keluar atau disertai keluarnya udara lewat rongga hidung
3) Keras dan lunak
Keras : ketika diartikulasikan disertai ketegangan kekuatan arus udara.
Lunak : ketika diartikulasikan tidak disertai ketegangan kekuatan arus udara.
4) Bunyi panjang dan pendek
Tergantung panjang pendeknya bunyi diucapkan.
5) Bunyi rangkap dan bunyi tunggal
Rangkap : dua bunyi dalam satu suku kata.
Tunggal : satu bunyi dalam satu suku kata.
Rangkap vokal : diftong
Rangkap konsonan : klaster
tunggla vokal : monoftong

6) Bunyi nyaring dan bunyi tidak nyaring
Dipengaruhi oleh aspek audiotoris dan luas sempitnya ruang resonansi pada waktu bunyi.

7) Bunyi dengan arus egresif dan arus ingresif

Egresif : arus udara keluar dari paru-paru.
- Egresif pulmonik melalui mekanisme pulmonik.
- Egresif glotik melalui mekanisme glotik.
Ingresif : udara masuk ke dalam paru-paru

Setelah diuraikan tentang klasifikasi bunyi bahasa secara rinci diatas, selanjutnya pembahasan tentang klasifikasi bunyi secara garis besar yaitu bunyi vocal dan konsonan. KLASIFIKASI VOKAL
Bunyi vokal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah bias bersifat vertical maupun horizontal. Bunyi vokal yang mempunyai kualitas bunyi tertentu, keadaan lidah tertentu yang telah dipilih sedemikian rupa untuk dibentuk dalam suatu rangkap gambar bunyi disebut dengan vokal kardinal.
Klasifikasi bunyi Vokal dapat diuraikan sebagi berikut :
a. Tinggi rendahnya lidah
Vokal Tinggi , misalnya bunyi [u] dan [i]
Vokal Madya atau tengah, misalnya bunyi [e] dan [o]
Vokal rendah, misalnya bunyi [a]
b. Lidah yang Bergerak
Vokal depan : Lidah bagian depan [i.e]
Vokal tengah : Lidah bagian tengah
Vokal belakang : Lidah bagian Belakang [u , o]
c. Strikture
Keadaan hubungan artikulator aktif dengan artikulator pasif dibagi menjadi 3, yaitu :
- vokal Tertutup: lidah diangkat setingi-tinggi mungkin, mendekati langit-langit dalam batas vokal.
- Vokal semi tertutup: lidah diangkat sepertiga, di bawah tertutup 2/3 di atas vokal yang paling rendah.
- Vokal semi terbuka: lidah diangkat sepertiga , di atas vokal yang paling rendah


d. Bentuk Bibir
Vokal bulat : bibir bulat, baik terbuka ataun tertutup
Vokal netral : bibir netral
Vokal tidak bulat : bibir tidak bulat

KLASIFIKASI KONSONAN
Bunyi konsonan biasanya dibedakan berdasarkan 3 acuan atau criteria yaitu :
a) Posisi pita suara
b) Cara artikulasi
c) Tempat artikulasi
Dari ketiga acuan tersebut dibawah ini akan diuraikan satu persatu agar lebih jelas dan dapat dipahami.
1. Posisi Pita Suara
Jika bersuara maka pita suara akan terbuka sedikit, sedangkan jika tidak bersuara pia suara akan terbuka lebar.
2. Cara Arikulasi
 Hambat: menutup sepenuhnya aliran udara sehingga udara mampat di belakang tempat penutupan. Kemudian penutupan itu dibuka secara tiba-tiba sehingga menyebabkan terjadi letupan. Contoh: /p/, /b/, /t/, dll.
 Geser: artikulator aktif mendekati artikulator pasif > membentuk celah. Contoh: /f/, /s/, /k/, dll.
 Paduan: artikulator aktif menghambat sepenuhnya aliran udara>celah sempit dg artikulator pasif. Merupakan gabungan antara hambatan dan frikatif. contoh: /e/, /j/
 Sengau/ nasal: menghambat sepenuhnya aliran udara melalui mulut, tetapi membiarkan keluar leawat hidung dg bebas. Contoh: /m/, /n/, dll.
 Getaran/ trill: melakukan kontak beruntutan dg artikulator pasif. Getaran terjadi berulang-ulang. Contoh : /r/.
 Sampingan/ lateral: menghambat aliran udara pd bagian tengah mulut> membiarkan udara keluar melalui samping lidah.contoh ./l/.
 Hampiran/ aproksinan: artikulator aktif dan pasif membentuk ruang yang mendekati posisi terbukaspt dlm pembentukan vokal, tetapi tidak cukup sempit untuk menghasilkan konsonan geseran.
3. Tempat Artikulasi
 Bilabial terjadi karena kedua belah bibir. Contoh: [b], [p], dll.
 Labiodental terjadi pada bibir bawah dan bibir atas. Contoh: [p], [v].
 Laminoalveolar terjadi pada daun lidah dan gusi. Contoh: [t], dan [d].
 Dorsovelar terjadi pada pangkal lidah dan velum (langit-langit lunak). Contoh : [k], dan [g].
UNSUR SUPRASEGMENTAL
Unsur suprasegmental ini bunyi yang dihasilkan bukan berasal dari alat-alat ucap. Bagian bunyi yang tidak dapat disegmentasikan dibedakan atas :
a. Tekanan atau stress
Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, pasti dibarengi dengan tekanan keras. Sebaliknya, sebuah bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang tidak kuat sehingga amplitudonya menyempit, pasti dibarengi dengan tekanan lunak.
b. Nada atau Pitch
Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Bila suatu bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi tinggi, tentu akan disertai dengan nada tinggi. Sebaliknya kalau diucapkan dengan frekuensi getaran rendah maka tentu akan disertai dengan nada rendah juga.
c. Jeda atau Persendian
Jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar.Disebut jeda karena adanya hentian itu, dan disebut persendian karena ditempat perhentian itulah terjadinya persambungan antara segmen yang satu dengan yang lain.

Sumber : Chaer,Abdul . 2003. Linguistik Umum. Jakarta : PT.Rineka Cipta.